Workshop Membatik Mahasiswa TBI Ciptakan Karya Unik Bersama Batik Muthidea

Malang – HMJ TBI (Himpunan Mahasiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia) sukses menyelenggarakan seminar pelatihan membatik pada Kamis, 17 Oktober 2024, bertempat di Auditorium Universitas Al Qolam. Pelatihan ini bertujuan untuk mengenalkan seni membatik sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan sekaligus mengembangkan kreativitas di kalangan mahasiswa.

Pelatihan membatik ini mengundang Ibu Muthmainah sebagai pemateri utama. Beliau adalah pemilik UMKM Batik Muthidea yang telah dikenal luas dalam bidang seni batik. Kehadirannya memberikan wawasan mendalam mengenai proses membatik dan kiat-kiat dalam mengembangkan usaha batik tradisional di tengah persaingan industri kreatif saat ini.

Acara dimulai pukul 09:00 WIB dengan pembukaan oleh Ulfi selaku pembawa acara (MC). Serangkaian agenda resmi diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dan lagu perjuangan “Yalal Wathon” Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan pertama yang disampaikan oleh Hidayatul Lutfia, selaku ketua pelaksana, yang mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan partisipasi seluruh peserta serta dukungan dari berbagai pihak yang turut menyukseskan acara.

Berikutnya, Alfarizi selaku ketua HMJ TBI juga menyampaikan sambutannya dengan menekankan pentingnya mengenal dan mencintai budaya lokal. Ia berharap agar pelatihan ini dapat memberikan inspirasi bagi para mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pelestarian budaya, terutama dalam mengenal lebih dekat seni batik.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Bapak Kholiq, Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia, yang menyampaikan apresiasi tinggi kepada HMJ TBI atas inisiatif mengadakan acara ini. Ia menegaskan bahwa kegiatan seperti ini tidak hanya bermanfaat untuk menambah pengetahuan, tetapi juga penting dalam membentuk karakter mahasiswa yang mencintai budayanya sendiri.

Setelah sesi sambutan, MC menyerahkan jalannya acara sepenuhnya kepada Khuzaimah selaku moderator yang akan memimpin diskusi dalam seminar ini,

Beliau memulai pembahasan dengan menelusuri sejarah batik yang ditemukan di Jawa pada abad ke-19. Pada masa itu. Batik bukan hanya sekadar teknik menghias kain, tetapi juga merupakan seni yang sarat dengan nilai budaya, serta cerminan dari kreativitas dan kearifan lokal masyarakat Jawa.

Ibu Muthmainah menjelaskan bahwa dalam proses pembuatan batik, terdapat beberapa tahapan penting yang harus dilalui. Langkah pertama yang disebutnya adalah “scouring,” yaitu mencuci kain untuk menghilangkan residu atau kotoran yang ada pada kain tersebut

Tahap selanjutnya adalah “nerusi,” yaitu proses untuk memastikan motif batik terbentuk dengan sempurna dan warna dapat menyerap dengan baikAgar warna yang dihasilkan tidak mudah luntur, diperlukan proses “penguncian warna,” yaitu teknik untuk menjaga ketahanan warna pada kain.

Tahap terakhir dalam proses membatik adalah “pelorodan,” yaitu merendam kain dalam air panas untuk menghilangkan malam yang menempel. Dengan demikian, motif yang telah terbentuk akan terlihat jelas dan lebih hidup.

Di tengah sesi, Ibu Muthmainah juga menjelaskan tentang perbedaan antara batik cap dan batik tulis. Batik cap menggunakan alat cetak yang memungkinkan motif diproduksi secara massal dalam waktu yang lebih singkat. Sebaliknya, batik tulis dibuat dengan cara manual menggunakan canting, yang memerlukan waktu lebih lama dan keterampilan yang lebih tinggi.

Setelah menyampaikan materi, moderator membuka sesi tanya jawab yang direspons dengan antusias tinggi oleh para mahasiswa. Salah satu pertanyaan menarik datang dari Anwar, mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia (TBI) semester lima, yang menanyakan tentang bagaimana menjaga kelestarian batik di era modern saat ini. Menanggapi pertanyaan ini, Ibu Muthmainah menegaskan bahwa batik tidak hanya sekadar produk tekstil, tetapi merupakan warisan budaya yang harus dilestarikan oleh setiap generasi. Menurutnya, di tengah derasnya arus modernisasi, batik memiliki nilai budaya dan historis yang sangat penting sebagai identitas bangsa.

Acara ini diakhiri dengan pemberian cinderamata kepada Ibu Muthmainah sebagai tanda terima kasih atas ilmu dan pengalaman yang telah dibagikan. Seluruh peserta kemudian berfoto bersama sebagai kenang-kenangan akan momen edukatif ini. Melalui seminar ini,

Acara ini diharapkan mampu memberikan dampak positif dan menumbuhkan minat generasi muda untuk lebih mencintai dan melestarikan warisan budaya Indonesia, terutama batik. Selain itu, pelatihan ini juga membuka wawasan tentang pentingnya kreativitas dalam mengembangkan produk budaya agar dapat berdaya saing di era modern.

Penulis                        : Miftahul Jannah
Editor                           : Muhammad Ulil Albab, S.H
Sumber Gambar        : Media HMJ TBI Al-Qolam

Bagikan

Berita Terbaru