PERPUSTAKAAN AL-QOLAM, GUDANG ILMU ATAU GUDANG BUKU?

Di lingkungan kampus, perpustakaan sering disebut sebagai jantungnya perguruan tinggi. Idealnya, dari sanalah denyut intelektual mahasiswa berawal : membaca, berdiskusi, menulis, dan berpikir kritis. Namun, jika kita melihat realitas di perpustakaan kampus, khususnya di Universitas Al-Qolam Malang, maka akan muncul satu pertanyaan reflektif: apakah perpustakaan telah menjadi Gudang ilmu, atau masih sebatas Gudang Buku?

Tidak bisa di pungkiri, Perpustakaan di Universitas Al-Qolam malang memiliki koleksi yang cukup beragam. Buku-buku Keislaman, pendidikan, referensi akademik tersusun rapi di rak-rak. Secara fisik, perpustakaan ini tampak layak dan representatif. Namun persoalannya bukan terletak pada seberapa banyak buku yang dimiliki, melainkan pada seberapa sering buku-buku itu di buka dan di baca oleh mahasiswa.

Bagi sebagian Mahasiswa, perpustakaan masih dipandang sebagai tempat “darurat”: dikunjungi ketika ada tugas, skripsi, atau kewajiban akademik tertentu. Setelah itu, perpustakaan kembali sepi. Budaya membaca secara mandiri, diskusi ilmiah, atau sekedar nongkrong sambil membaca buku masih belum menjadi kebiasaan yang kuat. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka perpustakaan akan menjadi ruang sunyi yang penuh buku, tetapi miskin aktivitas keilmuan.

Padahal, sebagai universitas yang berbasis keilmuan dan nilai-nilai keislaman, Universitas Al-Qolam memiliki modal yang sangat besar untuk menghidupkan tradisi literasi. Perpustakaan seharusnya menjado ruang aman bagi mahasiswa untuk bertanya, meragukan, dan mencari jawaban. Maka di sanalah mahasiswa tidak hanya mengerjakan tugas atau tuntutan akademik, akan tetapi juga membentuk cara berpikir dan sikap ilmiah.

Untuk menjadikan perpustakaan sebagai Gudang ilmu, diperlukan upaya bersama. Pengelola perpustakaan dapat menghadirkan program yang lebih dekat dengan dunia mahasiswa, seperti bedah buku, diskusi ringan antar jurusan, pojok baca tematik, atau ruang diskusi terbuka. Sementara itu, mahasiswa juga perlu mengubah cara pandang : perpustakaan bukan tempat yang membosankan, melainkan ruang tumbuh gagasan dan kreativitas.

Pada akhirnya, Perpustakaan Universitas Al-Qolam Malang tidak kekurangan buku, tetapi masih membutuhkan pembaca yang konsisten. Tidak kekurangan rak, tetapi membutuhkan interaksi intelektual. Jika mahasiswa mulai menjadikan perpustakaan sebagai bagian dari keseharian akademik, bukan hanya sekedar tempat mencari referensi tugas, maka perpustakaan akan hidup. Dan pada saat itulah Perpustakaan Universitas Al-Qolam Malang benar-benar layak di Sebut sebagai Gudang Ilmu, bukan hanya sebagai Gudang Buku Semata.

Penulis                            : Uslifatul Jannah
Editor                              : Muhammad Ulil Albab, S.H
Sumber Gambar           : Media Center Al-Qolam

Bagikan

Berita Terbaru