Malang — Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Al-Qolam Malang mengadakan forum diskusi akademik bertajuk Kajian Kemerdekaan pada Senin (25/8), pukul 13.00–16.30 WIB. Kegiatan ini mengangkat tema krusial: “Penulisan Sejarah Sebagai Langkah untuk Kemaslahatan Bangsa, atau Sebagai Kepentingan Politik Pemerintah.”
Acara berlangsung khidmat dengan diawali pembukaan resmi, menyanyikan lagu kebangsaan, serta sambutan dari berbagai pihak. Sebagai inisiatif mahasiswa, forum ini dimaksudkan menjadi ruang dialog kritis bagi civitas akademika untuk merespons wacana penulisan ulang sejarah nasional yang tengah ramai diperbincangkan publik.
Presiden Mahasiswa UQM, Alfarisi, menegaskan bahwa forum ini menjadi wadah mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi dan pemikiran akademis. Menurutnya, mahasiswa memiliki hak fundamental untuk ikut serta merawat dan menjaga keberlangsungan bangsa melalui kritik konstruktif terhadap kebijakan pemerintah.
Wakil Rektor III Universitas Al-Qolam Malang, Ning Siti Aisyah, S.Ag., M.A., menekankan pentingnya generasi muda untuk mendalami sejarah bangsa. Ia mengingatkan bahwa Generasi Z cenderung kurang tertarik pada masa lalu, padahal sejarah merupakan refleksi diri yang harus dipahami dan diwarisi.

Sementara itu, sikap tegas datang dari organisasi eksternal mahasiswa. Ryns Mahendra, Koordinator Daerah BEM Nusantara Jawa Timur Malang, menyatakan penolakan terhadap rencana penulisan ulang sejarah nasional. Ia menambahkan, pihaknya akan segera menggelar konsolidasi serta aksi nyata sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dinilai sarat kepentingan politik tersebut.
Sesi materi menjadi titik puncak acara dengan menghadirkan dua narasumber, K.H. Abdullah SAM dan Gus Athok Lukman Hakim. Keduanya menegaskan bahwa sejarah harus dipandang sebagai pisau analisis, bukan kebenaran absolut.
K.H. Abdullah SAM mengingatkan bahwa sejarah kerap kali merupakan “kesepakatan kolektif” yang sarat kepentingan. Karena itu, mahasiswa dituntut untuk terus mengkaji sejarah dari berbagai sumber agar menemukan kebenaran yang lebih autentik.
Pernyataan ini diperkuat oleh Gus Athok Lukman Hakim yang menegaskan potensi manipulasi sejarah di masa depan. Ia menekankan bahwa persoalan sejarah tidak boleh berhenti pada perenungan semata, melainkan harus dikaji secara berkelanjutan demi keberlangsungan bangsa.
Kedua narasumber sepakat bahwa literasi, dialektika, dan gerakan intelektual mahasiswa harus terus diperkuat. Gerakan yang dimaksud tidak hanya berupa konsolidasi atau aksi, tetapi juga diwujudkan melalui penulisan karya akademik. Menurut mereka, dengan menulis, mahasiswa ikut berkontribusi menyelamatkan dan meneruskan peradaban bagi generasi mendatang.
Penulis : Anisaul Khomsah
Editor : Muhammad Ulil Albab, S.H
Sumber Gambar : Media Center Al-Qolam


