
Universitas Al-Qolam Malang – melalui diskusi panjang – mengusung visi transformasi berbasis pesantren. Transformasi ini bermakna kebermanfaatan ala pesantren yang memberikan perubahan pada masyarakat. Karena – dalam paradigma keilmuan pesantren – ilmu haruslah bermanfaat dan berdampak. Tanpa dampak (atsar), ilmu menjadi tidak bermakna. Itulah gagasan besar di universitas ini.
Pertanyaannya: bagaimana agar bisa berdampak? Apakah universitas harus berperan langsung dalam persoalan teknis masyarakat? Jika iya, apakah segala energi universitas diarahkan pada persoalan teknis tersebut?
Hemat penulis, universitas bukanlah lembaga sosial masyarakat yang berfokus pada problem teknis. Universitas adalah wadah analisis ide dan kenyataan, yang lalu dituangkan dan diajarkan pada mahasiswa. Universitas adalah tempat mewarnai input masyarakat dengan warna baru, input itu berupa generasi (mahasiswa). Dan mahasiswalah yang mengambil peran berikutnya: berperan di masyarakat. Singkatnya, universitas adalah wadah pencetak generasi. Fokus utama universitas adalah investasi sumber daya manusia yang memberi warna baru pada masyarakat. Subjek universitas adalah mahasiswa, bukan masyarakat itu sendiri.
Pemikiran ini mungkin debatable, dan bisa jadi dianggap kontra dengan gagasan transformasi. Jika universitas tidak terjun langsung pada problem masyarakat, lalu apa makna transformasi itu? Apa isi dari universitas hanya soal mendidik, mendidik, dan mendidik? Masyarakat tidak punya waktu lama menunggu itu.
Itu mungkin. Tapi pemikiran penulis ditopang dua hal. Pertama, universitas memang lembaga pendidikan, bukan lembaga spesifik bidang lain di masyarakat. Sehingga keseriusan universitas memang membuka wawasan dan mendidik (baca: mencetak generasi). Lihat bagaimana Universitas Tokyo yang menyadari bahwa Jepang rawan bencana, lalu membuat program studi baru tentang bencana. Universitas Oxford membuka prodi tentang kesehatan mental, karena melihat masalah serius soal kesehatan mental. Penelitian dampak globalisasi terhadap Singapura ditingkatkan di Universitas Nasional Singapura, saat mereka melihat itu sebagai masalah serius. Respon mereka bukan terlibat langsung, tapi mengkaji dan melahirkan para sarjana disruptor.
Kedua, dampak dari hadirnya generasi disruptor (sarjana transformer) jauh lebih besar. Meski tidak langsung ke inti masalah, hadirnya para transformer mengubah banyak hal. MIT – perguruan tinggi terbaik di dunia – tidak terjun langsung dalam isu iklim global, tapi Kofi Annan, alumni MIT memberikan warna baru pada PBB untuk serius di isu itu. Universitas Oxford tidak hadir langsung di Pakistan, tapi alumninya, Malala Yousafzai mengubah banyak pendidikan wanita di sana, hingga mendapat penghargaan nobel. Universitas Al-Azhar juga demikian, tapi alumninya banyak menjadi tokoh penting dalam dunia Islam di masa sekarang ada Said Ramadhan al-Bouti (asal Sirya dan terkenal akan karyanya tentang Sejarah Nabi saw dan pemikiran Islam), Tariq Ramadan (Aktivis Islam demokrasi di Swiss), Azharudin Rumi (Pendiri Zaytuna College, Amerika dan terkenal kajiannya tentang Islam dan Sains). Perguruan tinggi itu tetap serius mengkaji, dan alumninya yang mengubah dunia.
Dengan melihat dua alasan tadi, penulis melihat gagasan transformasi di UQM bukan berarti mengerahkan energi besar untuk terjun di masyarakat. Tugas utama UQM justru melahirkan para disruptor (transformer), yang nantinya mereka mengubah masyarakat – atau setidaknya memberi warna perubahan baik. Seperti kata Nelson Mandella, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat Anda gunakan untuk mengubah dunia.” []
Penulis : Ahmad Biyadi
Editor : Muhammad Ulil Albab, S.H
Sumber Gambar : Media Center Al-Qolam

