WR2 1 - Universitas Al Qolam Malang

Rektor UQM hadiri pembukaan kelas Muharrik, Pengkaderan Berbasis Pesantren Pertama di Lingkungan PTNU Se-Indonesia

Malang – Kelas Muharrik (Sekolah Kader Penggerak Berbasis Pesantren) resmi dibuka pada Selasa malam, 3 November 2026, di Ponpes Bahrul Ulum Alhamid. Acara pembukaan yang dirangkaikan dengan kelas pertama ini dihadiri para peserta kelas serta perwakilan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) dan badan otonom (Banom) terkait.

Acara dibuka oleh Ketua Lazisnu, KH. Masruri. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan sebuah titipan besar: kebangkitan NU, khususnya Lazisnu, dipercayakan kepada para mahasiswa yang mengikuti Kelas Muharrik. Titipan itu terutama ditujukan kepada para mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang penerima beasiswa NU dan Lazisnu.

“Beasiswa yang diterima mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang bukan semata-mata bantuan untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi juga amanah untuk ikut membangun jam’iyah. Kami berharap para penerima beasiswa ini tidak hanya tumbuh menjadi sarjana yang berilmu, tetapi juga menjadi kader yang memiliki kepedulian, kapasitas, dan kemauan untuk menggerakkan NU di tengah masyarakat.” ujar KH. Masruri.

Selanjutnya, KH. Ahmad Atho’ Lukman Hakim, M.Sc., selaku tuan rumah, membawakan orientasi acara. Beliau menekankan pentingnya laku tirakat sebagai fondasi awal bagi para peserta, yakni sholat malam dan wirid, serta pengajian kitab Risalah Ahlus Sunnah yang dilaksanakan sebelum penyampaian materi. Dengan urutan tersebut, peserta lebih dulu dibekali amalan dan landasan keaswajaan sebelum memasuki materi-materi kelas. Dalam kesempatan itu, beliau juga menjelaskan materi-materi yang akan dibawa selama kelas berlangsung.

“Seorang penggerak tidak cukup hanya memiliki pengetahuan organisasi. Ia harus membangun kedisiplinan spiritual, memperkuat pemahaman keaswajaan, dan memahami persoalan masyarakat secara langsung. Karena itu, Kelas Muharrik dimulai dengan tirakat dan pengajian, kemudian dilanjutkan dengan penguatan kapasitas intelektual serta keterampilan sosial.” Pungkas KH. Atok.

Adapun program Kelas Muharrik sendiri terdiri atas empat jalur. Pertama, Keaswajaan an-Nahdliyah dan Ke-NU-an (2 bulan, 40 pertemuan, 80 jam): menempatkan Aswaja sebagai landasan amaliyah, cara berpikir, dan arah gerakan, dengan Ke-NU-an dipelajari lewat sejarah, tata organisasi, nilai khidmah, peran kebangsaan, serta pembacaan kritis atas sejarah NU di Malang Raya; kajian kitabnya memakai Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah karya KH Ali Maksum dan Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jamaah karya KH Hasyim Asy’ari. Kedua, Transformasi Digital Organisasi dan Pesantren (1 bulan, 20 pertemuan, 40 jam): membimbing peserta dari audit kebutuhan hingga penerapan satu proyek digital yang dapat digunakan MWCNU, lembaga, Banom, maupun pesantren, seperti sistem pendataan program, arsip persuratan, pendaftaran santri, basis data anggota, dashboard layanan, atau portal informasi. Ketiga, Perencanaan Program Kerja Satu Tahun (1 bulan, 20 pertemuan, 40 jam): lokakarya intensif yang membantu setiap MWC menyusun program kerja satu tahun yang berangkat dari mandat organisasi, peta sosial, kebutuhan jamaah, aset wilayah, dan kapasitas nyata MWC, dengan keluaran dokumen program kerja yang siap diuji dan disahkan. Keempat, Analisis Sosial dan Rekayasa Sosial (2 bulan, 40 pertemuan, 80 jam): peserta bergerak dari pemahaman paradigma menuju pengumpulan data, pemetaan sosial, analisis masalah, perancangan intervensi, dan presentasi hasil, dengan keluaran peta sosial, laporan analisis sosial, rancangan rekayasa sosial, dan presentasi.

Acara kemudian dilanjutkan dan ditutup oleh Rektor Universitas Al-Qolam Malang, KH. Dr. Muhammad Adib, M.Ag. Dalam penutupnya, beliau menyampaikan bahwa program ini merupakan yang pertama di seluruh perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU) di Indonesia dengan model pengaderan seperti ini. Beliau juga menegaskan bahwa program ini merupakan proyek pertama yang diinisiasi oleh LP3M bersama Lazisnu untuk NU di masa depan. Karena itu, beliau berharap program ini dapat berlangsung langgeng dan terus berlanjut pada angkatan-angkatan berikutnya.

“Kelas Muharrik ini merupakan ikhtiar untuk menyiapkan kader NU yang tidak hanya memahami nilai-nilai keorganisasian, tetapi juga mampu menjawab tantangan zaman. Kami ingin melahirkan generasi yang memiliki kedalaman keilmuan, kecakapan digital, kemampuan membaca persoalan sosial, serta keberanian menghadirkan solusi bagi masyarakat. Harapan kami, program ini tidak berhenti pada satu angkatan, melainkan menjadi tradisi kaderisasi yang berkelanjutan.” Tutur Rektor UQM

Turut hadir dalam acara ini beberapa MWCNU dan Banom yang merekomendasikan beasiswa serta Banom terkait, antara lain MWCNU Pagelaran, IPNU Jeru, dan Lazisnu. Kehadiran mereka menjadi penanda kuatnya dukungan struktural NU terhadap lahirnya kader-kader penggerak dari kalangan mahasiswa ini.

Penulis                      : Panji Nur Muhammad Sholih, S.H.
Editor                        : Letda (KC) Muhammad Ulil Albab, S.H., M.H.
Sumber Gambar     : Media Center Al-Qolam

Bagikan

Berita Terbaru

WR2 1 - Universitas Al Qolam Malang
Jaringan Situs Universitas Al Qolam Malang
PAI |PIAUD |Tadris B. Indonesia |Tadris B. Inggris |Tadris Matematika |Manajemen Bisnis Syariah |Akuntansi Syariah |Hukum Ekonomi Syariah |Ahwal Syakhsiyyah |KPI |FEBI |Fakultas Tarbiyah |Fakultas Syariah |Fakultas Dakwah |Pascasarjana |PMB Online